Happy New Year 2022! Terlambat? Ah, masih di bulan Januari kan ya, jadi suasananya masih tahun baru. Tahun ini harapan saya hanyalah diberikan kesehatan, tak ingin muluk-muluk menargetkan diri dengan goal ini dan itu. Terlalu banyak harapan akan jadi beban, jadi kita lalui saja selangkah demi selangkah bersama hari. Malam tahun baru lalu area kompleks perumahan saya super heboh, kembang api yang diledakkan lebih dahsyat dari tahun-tahun sebelumnya. Lebih lama dan juga lebih bersaing antar kompleks. Suara jeritan dan teriakan orang-orang disepanjang jalan kompleks juga lebih kencang dan riuh. Saya justru melalui hari itu dengan membereskan rumah, sibuk dengan sapu, kain lap dan alat pel sejak pagi hari. Rumah super kotor karena jarang dibersihkan, apalagi sejak renovasi atap rumah di area belakang dua bulan lalu, lantai makin kumuh dari kondisi yang memang sudah kumuh. Badan ini terasa remuk redam, dan kaki pegal linu karena menunda membersihkan rumah berarti menimbun pekerjaan itu di satu hari. Jadi saat pukul dua belas malam tiba saya terkapar di kasur menikmati sejuknya AC dan segarnya wangi sprei yang baru diganti.
Tampilkan postingan dengan label Chinese Food. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chinese Food. Tampilkan semua postingan
Resep Spicy Wonton Soup
Tahu a la General's Tso
Karena resep yang saya post di Instagram dua tahun belakangan ini lebih update dibandingkan blog, maka saya putuskan mulai hari ini beberapa resep tidak akan dimulai dengan cerita pengantar a la saya yang panjang kali lebar, tapi fokus ke resep yang disajikan. Menulis dan bercerita memang hobi saya, tetapi menulis juga memerlukan waktu, inspirasi dan mood. Artinya, terkadang menghambat resep di blog susah bertambah mengikuti larinya resep di IG. Cerita tetap akan sajikan jika memang mood menulis muncul dan ada story yang ingin diceritakan. Cara ini akan membuat konten resep di blog menjadi lebih banyak, variatif, dan membantu mereka yang hendak mencari resep tertentu tetapi tidak ingin melihatnya di platform social media lainnya.
Resep Ayam Saus Mentega
Resep Mi Goreng Sapi
Rumah Pete ini sepertinya tak pernah habis masalahnya datang bertubi-tubi, atau memang rumah seperti itu adanya ya, seakan selalu saja ada masalah datang mendera. Mulai dari air pompa yang mati, atap bocor jika hujan, internet mati, AC error, tikus masuk ke rumah, tikus membuat lubang lagi di halaman. Tobat kepala saya seakan hendak pecah menghadapinya. Baru-baru ini pompa pendorong di dekat torn penampung air rusak lagi, setelah beberapa waktu lalu dibetulkan dan air mengalir lancar, kini masalah baru muncul. Pompa pendorong yang baru saja diganti tersebut bocor sehingga mesinnya selalu menyala. Agar mesin tidak rusak dan listrik tidak jebol, akhirnya aliran listrik ke pompa saya matikan. Air masih mengalir hanya alirannya tidak deras dan jika dibiarkan masalah ini terlalu lama maka lumut akan masuk ke saluran air dan membuatnya tersumbat. Saya harus memanggil tukang pompa langganan, Pak Junaidy, lagi.
Selain pompa, AC di kamar mulai ngadat, memang waktunya diservis karena suhunya mulai kurang dingin dan kadang mati sendiri. Masalah berikutnya adalah internet IndiHome dirumah mati, sepertinya modemnya terbakar. Sejak menggunakan internet dari Telkom ini enam tahun yang lalu, sudah 3 kali saya mengganti modemnya. Semua kasusnya sama, terbakar. Modem lama IndiHome jika dinyalakan terus menerus mudah panas dan konslet, jadi biasanya saya matikan jika berangkat ke kantor dan hidupkan lagi jika tiba dirumah. Tapi beberapa minggu yang lalu, modem tidak pernah dimatikan, karena setiap kali dihidupkan maka internet menjadi kurang lancar. Jadi modem selalu on berhari-hari dan berminggu-minggu, hingga akhirnya KO sendiri. Saya harus memanggil 3 tukang ke rumah, tukang pompa, tukang AC dan petugas Telkom. Tapi saya malas melakukannya. Saya malas memasukkan orang ke dalam rumah, karena selain kurang nyaman juga saya tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu tukang tersebut selesai bekerja. Saya berusaha bertahan dengan kondisi yang sebenarnya mulai agak kritis ini.
Resep Pangsit Goreng
Seandainya saya hendak membuka usaha makanan, sepertinya saya tertarik jenis kafe kecil nan cozy. Menyajikan minuman seperti es kopi atau coklat dengan es krim sebagai topping-nya. Makanannya yang ringan-ringan saja, seperti homemade carrot cake, brownies, atau cinnamon bun, jenisnya berganti setiap hari. Jikalau ingin agak berat sedikit mungkin hanya satu atau dua jenis hidangan spesial dihari itu seperti sup, pasta atau nasi, yang setiap hari berganti. Misal di hari Senin, spaghetti bolognese, dan hari Jumat, sup buntut goreng. Suasana kafe dibuat nyaman, musik jazz lembut mengalun, aneka tanaman dalam pot bertebaran dimana-mana sehingga terasa adem. Mungkin ala-ala greenhouse cafe.
Tapi saya sendiri tak yakin akan banyak pengunjungnya. Saya suka dengan suasana seperti itu, tapi pangsa konsumennya sangat terbatas. Berbeda dengan di Eropa atau negara-negara maju dimana kafe atau resto banyak bertebaran di tepian jalan. Umumnya memiliki nuansa yang sangat nyaman dan ditata cantik. Pengunjung duduk-duduk hingga ke pedestrian, santai menikmati semilir angin senja atau sinar matahari lembut saat spring. Disini? Mana ada pengunjung mau berpanas-panas ditengah terik gahar matahari dipinggiran jalan? Debu beterbangan dan asap knalpot menari-nari diudara. Seharian saja duduk didepan kafe, alamat bengek selama 10 tahun. Gubrak!
Klik untuk baca selanjutnya...
Resep Hot & Sour Soup
Resep Sup Malatang (Mala Soup)
Banyak ahli memprediksi kasus Covid akan mengalami lonjakan 2-3 minggu setelah Lebaran, pemerintah lantas mengeluarkan larangan keras mudik. Aturannya bagus, dan saya setuju, tapi kemudian keluar aturan lain yang kontradiktif, mudik dilarang tapi wisata dipersilahkan. Teng tong! Saya benar-benar tak mengerti. Bukankah inti dari larangan mudik adalah menghambat mobilisasi manusia dari satu daerah ke daerah lain dan mencegah terjadinya keramaian? Lantas apa artinya itu semua jika masyarakat dipersilahkan untuk masuk dan berkumpul di tempat-tempat wisata? Ancol bahkan full bak cendol di hari pertama Lebaran. Warga Jakarta yang tak bisa mudik, dan yang kehabisan ide kreatif menghabiskan waktu di rumah kemudian berduyun-duyun berkumpul di tempat hiburan seperti ini. Benar-benar hal yang lucu sekaligus mengkhawatirkan. Anehnya pengelola tempat wisata dan Pemda seakan tidak mengantisipasi kejadian ini sebelumnya. Ketika berita tersebut viral baru dilakukan tindakan pembatasan jumlah pengunjung, sementara virus sudah berkeliaran dan menginkubasi manusia yang berkumpul bak cendol sebelumnya.
Resep Ayam Pek Cam Kee (Ayam Rebus Garam)
Pernah melihat film silat China dimana seorang pendekar duduk dengan seonggok ayam rebus didepannya? Betapa nikmatnya kala menyaksikan si pendekar menarik sebuah paha ayam, menggigitnya dan mencabik daging yang terlihat lembut, empuk dan moist. Dulu saya begitu terngiler-ngiler jika melihat adegan ini. Dasar otak foodie, apapun jenis filmnya, jika ada adegan berbau makanan maka rasa ngiler pasti akan kumat. Menurut Pak Kustandi, rekan kantor keturunan Tionghoa yang punya banyak koleksi resep masakan maknyus, ayam pucat yang disantap si pendekar adalah ayam rebus garam atau ayam pek cam kee. Jika di kuliner lokal maka varian masakan ayam jenis ini mungkin mendekati ayam ingkung Jawa atau ayam bekakak. Hal yang membedakan mungkin, ayam rebus garam aslinya benar-benar ayam kampung yang direbus atau dikukus dengan garam hingga matang kemudian dioleskan dengan minyak wijen yang banyak. Rasa ayam kampung yang super gurih tidak memerlukan banyak bumbu lain untuk membuatnya lezat, cukup garam dan olesan minyak wijen sudah mampu mendongkrak nafsu makan hingga ke langit ke tujuh.
Resep Ayam Lada Hitam
Masa PSBB di Jakarta kabarnya akan diakhiri pada tanggal 4 Juni 2020. Walau Gubernur DKI mengatakan berakhirnya PSBB tergantung dari kedisiplinan warga ibukota juga. Artinya, jika jumlah kasus positif menurun dalam masa 2 minggu ini, maka PSBB akan dihentikan. Masyarakat akan kembali beraktifitas seperti sebelum masa PSBB diberlakukan, atau mengikuti istilah pemerintah yaitu 'new normal'. Saya sendiri sebagai pekerja kantoran yang setiap hari berangkat menggunakan armada angkutan umum seperti MRT dan angkot, terus terang agak ketir-ketir ketika new normal mulai diberlakukan. Saat semua pekerja kembali memenuhi gedung, jalanan dan angkutan umum. Saat mal beroperasi kembali dan dijejali dengan orang-orang yang berkunjung. Saat dimana masyarakat seakan baru saja keluar dari 'penjara' rumah dan kini lepas menikmati alam bebas.
Saat-saat seperti ini jauh lebih berisiko dibandingkan ketika PSBB belum diberlakukan, ketika kasus masih sedikit dibandingkan dengan sekarang. Apalagi melihat tingkah laku masyarakat yang tampaknya mulai tak peduli dan tak ada rasa takut. Contohnya seperti saat menjelang Lebaran kemarin ketika pasar-pasar diserbu, toko dipenuhi mereka yang berbelanja. Tak ada social distancing, dan yang menggunakan masker juga bisa dihitung dengan jari. Setiap hari televisi dan online dipenuhi dengan berita tentang corona virus, dan bagaimana kasus di Indonesia tak kunjung turun. Semua itu sepertinya tak membuat masyarakat menjadi waspada dan lebih menjaga diri. Terus terang saya tak siap menghadapi PSBB yang sebentar lagi berakhir.
Resep Chicken Rice
Jika ada yang bertanya ke saya, apakah ada rencana ke depan hendak mengembangkan Just Try and Taste menjadi lebih sophisticated, eye catching, terkenal, menarik, atau membuka lebih banyak opportunity ke bidang lain sehingga menghasilkan lebih banyak pundi-pundi uang, maka jawaban saya adalah tidak. Okeh, mungkin bagian terakhir tidak sepenuhnya tidak, karena siapa sih yang tidak ingin menambah penghasilan? Tapi jujur saya tidak bersemangat membuat blog ini lebih maju. Saya bahkan saat ini tidak bersemangat hendak mencoba aneka resep kekinian atau yang sedang heboh di post di Instagram dan media lainnya, demi menjaring lebih banyak view atau follower.
Swear, saat ini saya menjalani hidup tanpa ngoyo, melakukan apa yang saya suka dan bukan karena tuntutan seseorang atau sesuatu. Bahkan rencana jangka panjang saya sangat, sangat simple, sederhana dan mungkin bagi kebanyakan orang sama sekali tidak menarik. Saya ingin one day tinggal di polosok desa nan sepi, hidup tenang dalam sebuah rumah kecil, mengerjakan hobi yang segambreng banyaknya dan seminim mungkin berinteraksi dengan manusia lain. Saya bukan orang yang introvert, justru kebalikannya, tapi saya suka dengan kesendirian. Interaksi dengan manusia lain menurut saya membuat kepala pusing, menimbulkan masalah baru dan terkadang menjadikan hidup lebih ribet. Jadi ketika Covid 19 meraja, social distancing digencarkan dan karyawan kantoran dituntut untuk bekerja dari rumah, saya seakan menemukan dunia sendiri.
Langganan:
Komentar (Atom)
(+)























