Tampilkan postingan dengan label Tips kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips kesehatan. Tampilkan semua postingan

Rempah, Saus, Bumbu, Kondimen,

Rempah, saus, bumbu, dan kondimen memiliki arti yang berbeda-beda. Rempah merupakan bahan-bahan yang masih utuh dan belum diolah sama sekali. Saus adalah bahan rempah-rempah yang sudah diolah dalam bentuk cairan kental. Bumbu atau seasoning adalah bahan yang terdiri dari 1 atau lebih jenis rempah untuk masakan. Sedangkan kondimen adalah ramuan yang terdiri 1 atau lebih jenis rempah yang ditambahkan ke bahan makan saat disajikan. Kesemuanya nanti bermuara untuk melezatkan makanan yang akan kita santap. Di samping memberikan cita rasa dan aroma pada masakan, semua bahan tersebut berkhasiat bagi tubuh untuk kesehatan dan pengobatan. Asalkan, bahan dan sifatnya tetap terjaga dengan baik.
Rempah, Saus, Bumbu, Kondimen,
Bumbu dan rempah siap pakai

Di zaman yang serba cepat dan praktis ini, orang-orang membutuhkan produk-produk yang serba cepat dan praktis pula. Termasuk juga dalam hal masak memasak. Mereka tak ingin banyak direpotkan dalam membuat masakan. Terutama pada saat membuat bumbu-bumbunya. Oleh karena itu, diberilah solusi dengan membuat produk olahan bumbu yang berasal dari aneka rempah-rempah. Itulah mengapa, ada istilah rempah, saus, bumbu, dan kondimen.

1. Rempah
Rempah masih berupa asli dari bagian tanaman. Biasanya ditambahkan ke masakan dalam jumlah sedikit dengan tujuan memperbaiki cita rasanya. Tak hanya untuk makanan saja, beberapa minuman juga ditambahkan rempah-rempah. Pada umumnya, rempah mengandung minyak asiri dan oleoresin. Minyak asiri memiliki karakteristik mudah menguap. Untuk memperolehnya dipakai teknik destilasi uap. Oleoresin adalah hasil ekstraksi dari pelarut organik setelah minyak asiri terambil.

2. Saus
Saus adalah cairan panas atau dingin, atau produk semi cair yang ditambahkan ke dalam makanan pada saat disajikan. Tujuannya untuk menambah daya tarik makanan melalui penampilannya, aroma, cita rasa, dan tekstur makanan. Saus bisa saja terdiri dari campuran berbagai jenis rempah, ekstrak rempah, atau tak mengandung bahan rempah sama sekali. Contoh saus, antara lain; saus salad, saus sayur, saus buah, saus daging, saus hidangan laut, dll.

3. Bumbu
Bumbu atau yang lebih keren disebut seasoning adalah bahan yang terdiri dari 1 atau lebih rempah yang ditambahkan ke dalam bahan makanan saat diolah. Tujuannya, untuk memperbaiki cita rasa sehingga makanan terasa lebih sedap dan lezat. Contohnya, bumbu tumis kangkung, bumbu rendang, bumbu soto, bumbu tongseng, bumbu sate kambing, dll.

4. Kondimen
Kondimen adalah ramuan yang terdiri dari 1 atau lebih jenis rempah yang ditambahkan pada makanan saat makanan tersebut dihidangkan di meja makan. Tujuannya, memberikan cit rasa makanan tersebut lebih meningkat. Misalnya saja, lada hitam bubuk, lada putih bubuk, daun kemangi, rosemery, dll.

Nah, sekarang bisa membedakan apa itu rempah, saus, bumbu, kondimen dengan jelas bukan? Sekarang Anda bisa memperoleh rempah olahan dalam bentuk siap pakai atau instan saat Anda akan memasak untuk keluarga tercinta. Tinggal membeli bumbu instan di warung atau supermarket. 

Cara Simpan Rempah-rempah dan Pemanfaatannya (jahe, pala, dan fuli)

Cara simpan rempah-rempah pada masing-masing jenis tentu diberi perlakuan yang berbeda-beda. Hal ini bisa dilihat dari bentuknya. Penyimpanan rempah-rempah dalam bentuk segar seperti cabai, jahe, kunyit, kencur, serai, daun salam harus membuang terlebih dahulu bagian-bagian yang tak berguna. Lalu dibilas sampai bersih, selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong plastik, setelah itu baru dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Bila ingin disimpan dalam bentuk kering, perlu memperhatikan suhu pengeringannya, karena rempah-rempah mengandung minyak asiri yang akan mudah menguap. Suhu pengeringan optimal berkisar 50-60 derajat Celcius (bisa memakai bantuan sinar matahari).
Cara Simpan Rempah-rempah dan Pemanfaatannya (jahe, pala, dan fuli)
Jehe segar dimasukkan ke dalam kantong plastik sebelum masuk ke lemari pendingin

Sebelum masuk ke tahap pengeringan yang memakai oven atau di bawah sinar matahari, rempah-rempah perlu diberi beberapa perlakuan. Misalnya saja, jahe segar dicelupkan ke dalam air mendidih selama 2-3 menit atau dicelupkan ke dalam air yang mengandung kalsium klorida 1%. Cabai segar dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung klaium karbonat 1-2%, antioksidan BHA 0,001%. Kunyit segar dicelup dan direbus selama kurang lebih 1 jam dalam larutan natrium karbonat 0,1% supaya penampilannya tetap cerah. Untuk jenis rempah-rempah lainnya seperti cengkih, ketumbar, pala, merica, kayu manis, kapulaga sebaiknya disimpan ke dalam wadah tertutup rapat. Letakkan di tempat yang dingin dan kering supaya aroma rempah-rempahnya tidak hilang.

Cara simpan rempah-rempah dan pemanfaatannya (jahe, pala, dan fuli)

1. Jahe segar dan kering
Penyimpanan terbaik untuk jahe segar yaitu dengan cara membungkusnya dengan kertas atau dimasukkan ke dalam kantong plastik. Jahe segar bisa diolah menjadi jus dengan cara diparut terlebih dahulu atau hanya digeprek saja. Cara penyimpanan yang terbaik untuk jahe kering yaitu dimasukkan ke dalam wadah tertutup rapat di tempat dingin dan gelap. Jahe kering biasanya baru ditambahkan saat masakan sedang mendidih. Masakan-masakan yang menggunakan rempah jahe segar dan kering, antara lain; kari, kecap, masakan daging yang direbus, pikel, steak, kue puding, roti manis, biskuit.

2. Pala dan fuli
Pala dan fuli, baik dalam bentuk utuh maupun bubuk disimpan ke dalam wadah gelas dan letakkan di tempat dingin serta gelap. Pemanfaatannya, pala yang ditumbuk atau yang sudah berupa bubuk biasanya akan ditambahkan jelang akhir pemasakan. Karena aroma pala cepat menguap bila terkena pemanasan yang terlalu lama. Fuli sangat enak dipakai ke dalam aneka kue, puding, custard, saus, sup, masakan berbahan dasar ayam, dan ikan. Pala akan memberi cita rasa dan aroma kuat pada buah yang dipanggang atau direbus, custard, dan saus. Pala juga sangat bagus berpadu dengan rempah-rempah lainnya seperti kapol, kayu manis, cengkeh, jahe, dan lada.

Cara simpan rempah-rempah di atas perlu diterapkan di dapur Anda supaya cita rasa, aroma, dan khasiatnya tetap terjaga. Dengan demikian, saat nanti dipakai untuk berbagai aneka masakan favorit Anda, akan tetap memberi cita rasa dan aroma yang sedap dan lezat. Apa lagi jahe, pala dan fuli banyak digunakan untuk berbagai jenis masakan nusantara.

Daya Tahan Bumbu Instan dan Rempah-rempah Segar

Walaupun di dalam rempah-rempah terkandung senyawa antimikroba dan antioksidan yang mampu mencegah kerusakan bumbu, bukan berarti bumbu-bumbu instan tersebut bisa awet selama mungkin. Rempah-rempah yang sudah berubah wujud akan lebih mudah mengalami kerusakan daripada rempah-rempah yang belum diolah atau masih segar. Oleh karena itu, supaya daya tahan bumbu instan bisa lebih lama, ditambahkan bahan-bahan pengawet.
Daya Tahan Bumbu Instan dan Rempah-rempah Segar
Dengan penanganan yang baik, rempah-rempah segar dan bumbu instan bisa tahan cukup lama

Dengan penambahan garam sebanyak 1-2%, akan membatasi pertumbuhan dan perkembangan mikroba-mikroba yang bisa tahan hidup di dalam bumbu instan. Hanya jenis-jenis mikroba tertentu yang bisa hidup pada kondisi garam dengan konsentrasi tinggi. Sedangkan, pada bumbu yang masih segar, dengan kadar air sekitar 70% atau bumbu berbentuk pasta dengan kadar air sekitar 25-65%, perlu ditambahkan bahan pengawet Natrium benzoat (0,1-0,5%) atau asam sorbat supaya bisa tahan agak lama.

Dengan menerapkan metode pengeringan, daya tahan bumbu instan bisa lebih lama. Asalkan bumbu-bumbu instan kering ini diberi perlakuan dan ditangani dengan baik. Bumbu siap pakai kering atau rempah-rempah kering dengan kadar air maksimal 10%, tak perlu penambahan bahan pengawet apapun. Yang terpenting, ruag tempat penyimpanan baik (tempat sejuk, tidak lembab, dan tidak terkena sinar matahari langsung).

Untuk bumbu-bumbu segar atau rempah-rempah segar, bisa disimpan di dalam lemari pendingin dengan daya tahan antara 7-10 hari. Untuk rempah-rempah giling segar yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional biasanya hanya bertahan selama 2-3 hari saja karena kadar airnya masih tinggi dan biasanya cara pengolahan masih kurang higienis.

Daya tahan bumbu instan yang dikemas ke dalam botol bisa bertahan cukup lama. Bila sehabis dipakai, tutup kembali tutup botol rapat-rapat dan simpan kembali di lemari pendingin. Bumbu instan botolan ini bisa bertahan lebih lama bila disimpan ke dalam freezer atau lemari pembeku karena sudah pasti berbagai macam jenis mikroorganisme dan senyawa-senyawa di dalamnya tak akan mampu aktif.

Baca juga
Penyebab penurunan kualitas bumbu
Khasiat bumbu dapur tangkal anek penyakit
Bumbu instan siap pakai
Bahan-bahan bumbu masakan nusantara

Penyebab Penurunan Kualitas Bumbu

Bumbu segar yang diberi perlakuan dengan baik, pada umumnya akan aman dikonsumsi dan baik untuk kesehatan tubuh. Namun, aneka rempah-rempah yang dijual di pasar swalayan maupun tradisional tidak menutup kemungkinan berkualitas rendah. Bisa saja, rempah-rempah tersebut mengalami kontaminasi yang diakibatkan oleh residu pestisida akibat penyemprotan hama penyakit, atau bisa pula adanya kontaminasi kuman-kuman karena cara pemanenan yang tak baik, dll. Hal-hal seperti inilah yang menjadi penyebab penurunan kualitas rempah-rempah di pasaran.
Penyebab Penurunan Kualitas Bumbu
Selama tak terkontaminasi zat-zat berbahaya atau mikroba patogen, rempah-rempah aman dikonsumsi

Menurunnya kualitas bumbu bisa juga disebabkan oleh pengolahan rempah-rempah yang kurang higienis. Misalnya saja, rempah-rempah kurang bersih saat tahap pencucian sebelum masuk ke pengolahan selanjutnya menjadi bumbu. Alat-alat dan mesin pengolahan yang kurang higienis. Atau bisa juga kondisi tempat pengolahan yang kurang memenuhi syarat standar sanitasinya.

Beberapa jenis rempah diketahui juga mengandung senyawa antinutrisi seperti asam fitat, tanin, dan asam oksalat. Senyawa-senyawa tersebut bisa menjadi penyebab penrurunan kualitas bumbu. Senyawa-senyawa tersebut bisa mempengaruhi kesehatan tubuh karena dapat mengikat mineral-mineral dalam tubuh seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), zat besi (Fe), dan seng (Zn). Padahal, mineral-mineral tersebut dibutuhkan oleh tubuh yang seharusnya diserap oleh sistem pencernaan kita. Bila zat antinutrisi ini terdapat dalam konsentrasi tinggi, bisa berakibat kemunculan penyakit karena defisiensi (kekurangan) mineral.

Komponen senyawa fitat terkandung di dalam cengkih, biji pala, ketumbar, dan bawang putih. Senyawa tanin terdapat pada cengkih, kayu manis, daun salam, dan cabe rawit. Sedangkan senyawa oksalat terkandung di dalam cengkih dan daun jeruk purut. Asalkan dalam mengkonsumsi rempah-rempah tersebut masih dalam batas kewajaran, senyawa-senyawa tersebut tidak berpengaruh negatif pada tubuh.

Sampai saat ini belum ada laporan negatif terkait oleh rempah-rempah sebagai penyusun bumbu tradisional bagi kesehatan tubuh. Baik yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker) atau mutagenik (yang bisa mengakibatkan perubahan gen). Dengan demikian, penyebab penurunan kualitas bumbu lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal seperti terkontaminasi zat-zat pencemar dan akibat pengolahan rempah-rempah yang tak higienis.

Mari Mencermati Label Kemasan Produk Makanan

Ketika kita berbelanja, apa yang membuat jadi pertimbangan bagi kita untuk membeli suatu produk? Hampir semua orang menjawab serempak "harga barang tersebut". Harga menjadi pertimbangan utama bagi kebanyakan konsumen. Pertimbangan berikutnya yaitu memperhatikan penampilan produk seperti keindahan label, kemasan, merek populer, ada tidaknya atribut tertentu (halal atau kandungan zat-zat tertentu).
Mari Mencermati Label Kemasan Produk Makanan
Sebelum dibeli, cermati label produk-produk makanan ini

Tak banyak yang memperhatikan label pada suatu produk. Yang sering diperhatikan oleh konsumen Indonesia biasanya pencantuman label 'halal'. Selebihnya, kurang diperhatikan. Sebagian orang ada yang berkesempatan membaca label, tapi kurang dicermati. Nah, mulai sekarang, mari kita sedikit meluangkan waktu memeriksa labe dari suatu produk sebelum memutuskan dibeli.

Apa itu label?
Label adalah tulisan, tag, gambar, atau deskripsi lain yang tertulis, dihias, atau dicantumkan dengan cara apapun pada kemasan suatu produk. Pelabelan ditujukan sebagai sarana komunikasi antara produsen kepada konsumen tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh konsumennya terhadap produk-produk yang dipasarkan.

Konsumen akan memperoleh informasi tentang isi suatu produk tanpa harus membuka kemasannya. Konsumen dapat mengetahui apa saja yang terkandung di dalam produk makanan tersebut, termasuk hal-hal yang tak terlihat oleh mata atau tak diketahui secara fisik. Dengan keberadaan label ini, konsumen bisa melihat mutu dan keamanan suatu produk.

Label bagi produsen merupakan sebagai sarana berpromosi untuk menarik konsumen. Bagi konsumen, label produk-produk makanan membantu mereka untuk menilai suatu mutu produk tersebut. Tak hanya melihat label halal saja, tapi juga mencakup keamanan produk tersebut. Misalnya, batas kadaluwarsa produk-produk makanan tersebut. Nah, mulai sekarang, tak perlu apriori dengan kemasan suatu produk tertentu. Sebagai konsumen cerdas, mulailah cermati dan perhatikan label yang menyelimuti produk-produk yang akan Anda beli.
(+)