Tampilkan postingan dengan label Gizi dan Nutrisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gizi dan Nutrisi. Tampilkan semua postingan

Rempah, Saus, Bumbu, Kondimen,

Rempah, saus, bumbu, dan kondimen memiliki arti yang berbeda-beda. Rempah merupakan bahan-bahan yang masih utuh dan belum diolah sama sekali. Saus adalah bahan rempah-rempah yang sudah diolah dalam bentuk cairan kental. Bumbu atau seasoning adalah bahan yang terdiri dari 1 atau lebih jenis rempah untuk masakan. Sedangkan kondimen adalah ramuan yang terdiri 1 atau lebih jenis rempah yang ditambahkan ke bahan makan saat disajikan. Kesemuanya nanti bermuara untuk melezatkan makanan yang akan kita santap. Di samping memberikan cita rasa dan aroma pada masakan, semua bahan tersebut berkhasiat bagi tubuh untuk kesehatan dan pengobatan. Asalkan, bahan dan sifatnya tetap terjaga dengan baik.
Rempah, Saus, Bumbu, Kondimen,
Bumbu dan rempah siap pakai

Di zaman yang serba cepat dan praktis ini, orang-orang membutuhkan produk-produk yang serba cepat dan praktis pula. Termasuk juga dalam hal masak memasak. Mereka tak ingin banyak direpotkan dalam membuat masakan. Terutama pada saat membuat bumbu-bumbunya. Oleh karena itu, diberilah solusi dengan membuat produk olahan bumbu yang berasal dari aneka rempah-rempah. Itulah mengapa, ada istilah rempah, saus, bumbu, dan kondimen.

1. Rempah
Rempah masih berupa asli dari bagian tanaman. Biasanya ditambahkan ke masakan dalam jumlah sedikit dengan tujuan memperbaiki cita rasanya. Tak hanya untuk makanan saja, beberapa minuman juga ditambahkan rempah-rempah. Pada umumnya, rempah mengandung minyak asiri dan oleoresin. Minyak asiri memiliki karakteristik mudah menguap. Untuk memperolehnya dipakai teknik destilasi uap. Oleoresin adalah hasil ekstraksi dari pelarut organik setelah minyak asiri terambil.

2. Saus
Saus adalah cairan panas atau dingin, atau produk semi cair yang ditambahkan ke dalam makanan pada saat disajikan. Tujuannya untuk menambah daya tarik makanan melalui penampilannya, aroma, cita rasa, dan tekstur makanan. Saus bisa saja terdiri dari campuran berbagai jenis rempah, ekstrak rempah, atau tak mengandung bahan rempah sama sekali. Contoh saus, antara lain; saus salad, saus sayur, saus buah, saus daging, saus hidangan laut, dll.

3. Bumbu
Bumbu atau yang lebih keren disebut seasoning adalah bahan yang terdiri dari 1 atau lebih rempah yang ditambahkan ke dalam bahan makanan saat diolah. Tujuannya, untuk memperbaiki cita rasa sehingga makanan terasa lebih sedap dan lezat. Contohnya, bumbu tumis kangkung, bumbu rendang, bumbu soto, bumbu tongseng, bumbu sate kambing, dll.

4. Kondimen
Kondimen adalah ramuan yang terdiri dari 1 atau lebih jenis rempah yang ditambahkan pada makanan saat makanan tersebut dihidangkan di meja makan. Tujuannya, memberikan cit rasa makanan tersebut lebih meningkat. Misalnya saja, lada hitam bubuk, lada putih bubuk, daun kemangi, rosemery, dll.

Nah, sekarang bisa membedakan apa itu rempah, saus, bumbu, kondimen dengan jelas bukan? Sekarang Anda bisa memperoleh rempah olahan dalam bentuk siap pakai atau instan saat Anda akan memasak untuk keluarga tercinta. Tinggal membeli bumbu instan di warung atau supermarket. 

Cara Simpan Rempah-rempah dan Pemanfaatannya (jahe, pala, dan fuli)

Cara simpan rempah-rempah pada masing-masing jenis tentu diberi perlakuan yang berbeda-beda. Hal ini bisa dilihat dari bentuknya. Penyimpanan rempah-rempah dalam bentuk segar seperti cabai, jahe, kunyit, kencur, serai, daun salam harus membuang terlebih dahulu bagian-bagian yang tak berguna. Lalu dibilas sampai bersih, selanjutnya dimasukkan ke dalam kantong plastik, setelah itu baru dimasukkan ke dalam lemari pendingin. Bila ingin disimpan dalam bentuk kering, perlu memperhatikan suhu pengeringannya, karena rempah-rempah mengandung minyak asiri yang akan mudah menguap. Suhu pengeringan optimal berkisar 50-60 derajat Celcius (bisa memakai bantuan sinar matahari).
Cara Simpan Rempah-rempah dan Pemanfaatannya (jahe, pala, dan fuli)
Jehe segar dimasukkan ke dalam kantong plastik sebelum masuk ke lemari pendingin

Sebelum masuk ke tahap pengeringan yang memakai oven atau di bawah sinar matahari, rempah-rempah perlu diberi beberapa perlakuan. Misalnya saja, jahe segar dicelupkan ke dalam air mendidih selama 2-3 menit atau dicelupkan ke dalam air yang mengandung kalsium klorida 1%. Cabai segar dicelupkan ke dalam larutan yang mengandung klaium karbonat 1-2%, antioksidan BHA 0,001%. Kunyit segar dicelup dan direbus selama kurang lebih 1 jam dalam larutan natrium karbonat 0,1% supaya penampilannya tetap cerah. Untuk jenis rempah-rempah lainnya seperti cengkih, ketumbar, pala, merica, kayu manis, kapulaga sebaiknya disimpan ke dalam wadah tertutup rapat. Letakkan di tempat yang dingin dan kering supaya aroma rempah-rempahnya tidak hilang.

Cara simpan rempah-rempah dan pemanfaatannya (jahe, pala, dan fuli)

1. Jahe segar dan kering
Penyimpanan terbaik untuk jahe segar yaitu dengan cara membungkusnya dengan kertas atau dimasukkan ke dalam kantong plastik. Jahe segar bisa diolah menjadi jus dengan cara diparut terlebih dahulu atau hanya digeprek saja. Cara penyimpanan yang terbaik untuk jahe kering yaitu dimasukkan ke dalam wadah tertutup rapat di tempat dingin dan gelap. Jahe kering biasanya baru ditambahkan saat masakan sedang mendidih. Masakan-masakan yang menggunakan rempah jahe segar dan kering, antara lain; kari, kecap, masakan daging yang direbus, pikel, steak, kue puding, roti manis, biskuit.

2. Pala dan fuli
Pala dan fuli, baik dalam bentuk utuh maupun bubuk disimpan ke dalam wadah gelas dan letakkan di tempat dingin serta gelap. Pemanfaatannya, pala yang ditumbuk atau yang sudah berupa bubuk biasanya akan ditambahkan jelang akhir pemasakan. Karena aroma pala cepat menguap bila terkena pemanasan yang terlalu lama. Fuli sangat enak dipakai ke dalam aneka kue, puding, custard, saus, sup, masakan berbahan dasar ayam, dan ikan. Pala akan memberi cita rasa dan aroma kuat pada buah yang dipanggang atau direbus, custard, dan saus. Pala juga sangat bagus berpadu dengan rempah-rempah lainnya seperti kapol, kayu manis, cengkeh, jahe, dan lada.

Cara simpan rempah-rempah di atas perlu diterapkan di dapur Anda supaya cita rasa, aroma, dan khasiatnya tetap terjaga. Dengan demikian, saat nanti dipakai untuk berbagai aneka masakan favorit Anda, akan tetap memberi cita rasa dan aroma yang sedap dan lezat. Apa lagi jahe, pala dan fuli banyak digunakan untuk berbagai jenis masakan nusantara.

Bumbu Instan Solusi Buat Orang Sibuk

Perkembangan zaman memang menuntut orang-orang saat ini untuk serba praktis dalam segala hal. Termasuk dalam hal masak memasak. Oleh karena itu, kebutuhan bumbu instan atau bumbu siap pakai merupakan solusi terbaik buat orang-orang sibuk. Kebutuhannya pun semakin meningkat dari waktu ke waktu. 

Saat ini, di pasar swalayan maupun online shop sudah tersedia bumbu-bumbu instan siap pakai untuk berbagai jenis masakan. Misalnya saja, bumbu kari, bumbu rawon, bumbu rendang, bumbu soto, bumbu frankfurter, bumbu bologna untuk membuat masakan khas Italia, bumbu nasi goreng, dll. Bahkan, Anda bisa dengan mudah mendapatkannya di warung-warung atau lewat transaksi online.

Bumbu Instan Solusi Buat Orang Sibuk
Cabe bubuk dan kering siap pakai
Bumbu instan tersebut dikemas dalam suatu wadah yang tertutup rapat. Biasanya dalam bentuk sachet aluminium foil, botolan plastik atau gelas yang benar-benar rapat. Pengemasan seperti ini bertujuan untuk melindungi komponen-komponen aktif yang ada di dalam bumbu dari reaksi oksidasi karena adanya rangsangan kelembaban, panas, dan suhu.

Untuk menyimpan bumbu-bumbu instan agar tidak sampai berubah sifat-sifatnya, pilih ruang yang dingin, kering dan gelap. Tempatkan botol-botol berisi bumbu kering di ruang kabinet atau lemari penyimpan yang berdinding kaca supaya mudah terlihat karena bumbu-bumbu ini akan sering dipakai. Sedangkan untuk bumbu instan kemasan sachet hanya sekali pakai. Harus dihabiskan pada saat itu juga. Tidak boleh disimpan kembali karena akan terkontaminasi dengan udara luar yang nantinya akan terjadi reaksi oksidasi atau ketengikan.

Bumbu instan memang menjadi solusi bagi orang yang memiliki waktu terbatas karena kesibukan bekerja atau berkarir. Walaupun sudah tersedia bumbu-bumbu instan siap pakai, alangkah baiknya juga menyimpan rempah-rempah segar yang awet dalam kondisi tempat kering, seperti bawang merah, bawang putih, bawang bombay, jahe, kunyit, daun salam, cabai bubuk, cengkeh, ketumbar, lada, pala, kayu manis bubuk, kapulaga dll.

Daya Tahan Bumbu Instan dan Rempah-rempah Segar

Walaupun di dalam rempah-rempah terkandung senyawa antimikroba dan antioksidan yang mampu mencegah kerusakan bumbu, bukan berarti bumbu-bumbu instan tersebut bisa awet selama mungkin. Rempah-rempah yang sudah berubah wujud akan lebih mudah mengalami kerusakan daripada rempah-rempah yang belum diolah atau masih segar. Oleh karena itu, supaya daya tahan bumbu instan bisa lebih lama, ditambahkan bahan-bahan pengawet.
Daya Tahan Bumbu Instan dan Rempah-rempah Segar
Dengan penanganan yang baik, rempah-rempah segar dan bumbu instan bisa tahan cukup lama

Dengan penambahan garam sebanyak 1-2%, akan membatasi pertumbuhan dan perkembangan mikroba-mikroba yang bisa tahan hidup di dalam bumbu instan. Hanya jenis-jenis mikroba tertentu yang bisa hidup pada kondisi garam dengan konsentrasi tinggi. Sedangkan, pada bumbu yang masih segar, dengan kadar air sekitar 70% atau bumbu berbentuk pasta dengan kadar air sekitar 25-65%, perlu ditambahkan bahan pengawet Natrium benzoat (0,1-0,5%) atau asam sorbat supaya bisa tahan agak lama.

Dengan menerapkan metode pengeringan, daya tahan bumbu instan bisa lebih lama. Asalkan bumbu-bumbu instan kering ini diberi perlakuan dan ditangani dengan baik. Bumbu siap pakai kering atau rempah-rempah kering dengan kadar air maksimal 10%, tak perlu penambahan bahan pengawet apapun. Yang terpenting, ruag tempat penyimpanan baik (tempat sejuk, tidak lembab, dan tidak terkena sinar matahari langsung).

Untuk bumbu-bumbu segar atau rempah-rempah segar, bisa disimpan di dalam lemari pendingin dengan daya tahan antara 7-10 hari. Untuk rempah-rempah giling segar yang banyak dijual di pasar-pasar tradisional biasanya hanya bertahan selama 2-3 hari saja karena kadar airnya masih tinggi dan biasanya cara pengolahan masih kurang higienis.

Daya tahan bumbu instan yang dikemas ke dalam botol bisa bertahan cukup lama. Bila sehabis dipakai, tutup kembali tutup botol rapat-rapat dan simpan kembali di lemari pendingin. Bumbu instan botolan ini bisa bertahan lebih lama bila disimpan ke dalam freezer atau lemari pembeku karena sudah pasti berbagai macam jenis mikroorganisme dan senyawa-senyawa di dalamnya tak akan mampu aktif.

Baca juga
Penyebab penurunan kualitas bumbu
Khasiat bumbu dapur tangkal anek penyakit
Bumbu instan siap pakai
Bahan-bahan bumbu masakan nusantara

Penyebab Penurunan Kualitas Bumbu

Bumbu segar yang diberi perlakuan dengan baik, pada umumnya akan aman dikonsumsi dan baik untuk kesehatan tubuh. Namun, aneka rempah-rempah yang dijual di pasar swalayan maupun tradisional tidak menutup kemungkinan berkualitas rendah. Bisa saja, rempah-rempah tersebut mengalami kontaminasi yang diakibatkan oleh residu pestisida akibat penyemprotan hama penyakit, atau bisa pula adanya kontaminasi kuman-kuman karena cara pemanenan yang tak baik, dll. Hal-hal seperti inilah yang menjadi penyebab penurunan kualitas rempah-rempah di pasaran.
Penyebab Penurunan Kualitas Bumbu
Selama tak terkontaminasi zat-zat berbahaya atau mikroba patogen, rempah-rempah aman dikonsumsi

Menurunnya kualitas bumbu bisa juga disebabkan oleh pengolahan rempah-rempah yang kurang higienis. Misalnya saja, rempah-rempah kurang bersih saat tahap pencucian sebelum masuk ke pengolahan selanjutnya menjadi bumbu. Alat-alat dan mesin pengolahan yang kurang higienis. Atau bisa juga kondisi tempat pengolahan yang kurang memenuhi syarat standar sanitasinya.

Beberapa jenis rempah diketahui juga mengandung senyawa antinutrisi seperti asam fitat, tanin, dan asam oksalat. Senyawa-senyawa tersebut bisa menjadi penyebab penrurunan kualitas bumbu. Senyawa-senyawa tersebut bisa mempengaruhi kesehatan tubuh karena dapat mengikat mineral-mineral dalam tubuh seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), zat besi (Fe), dan seng (Zn). Padahal, mineral-mineral tersebut dibutuhkan oleh tubuh yang seharusnya diserap oleh sistem pencernaan kita. Bila zat antinutrisi ini terdapat dalam konsentrasi tinggi, bisa berakibat kemunculan penyakit karena defisiensi (kekurangan) mineral.

Komponen senyawa fitat terkandung di dalam cengkih, biji pala, ketumbar, dan bawang putih. Senyawa tanin terdapat pada cengkih, kayu manis, daun salam, dan cabe rawit. Sedangkan senyawa oksalat terkandung di dalam cengkih dan daun jeruk purut. Asalkan dalam mengkonsumsi rempah-rempah tersebut masih dalam batas kewajaran, senyawa-senyawa tersebut tidak berpengaruh negatif pada tubuh.

Sampai saat ini belum ada laporan negatif terkait oleh rempah-rempah sebagai penyusun bumbu tradisional bagi kesehatan tubuh. Baik yang bersifat karsinogenik (penyebab kanker) atau mutagenik (yang bisa mengakibatkan perubahan gen). Dengan demikian, penyebab penurunan kualitas bumbu lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal seperti terkontaminasi zat-zat pencemar dan akibat pengolahan rempah-rempah yang tak higienis.

Bumbu Dapur Tangkal Aneka Penyakit

Aroma dan cita rasa khas dari rempah-rempah berkat adanya kandungan komponen bioaktif (komponen-komponen di dalam bahan alami yang bersifat fungsional tertentu di dalam tubuh, misalnya saja; sebagai antimikroba, antioksidan, antiinflamasi dll). Kompoen bioaktif tersebut bisa berupa minyak asiri, flavonoid atau fenolik, alkaloid, dan terpenoid. Dengan demikian, aneka jenis rempah sebenarnya bumbu dapur yang mampu tangkal aneka penyakit.
Bumbu Dapur Tangkal Aneka Penyakit
Bawang merah dan bawang putih, selain menyedapkan masakan juga berkhasiat obat

Adanya komponen-komponen senyawa inilah yang membuat rempah-rempah tak hanya berperan sebagai penyedap cita rasa aneka masakan saja, tapi juga berperan sebagai obat pencegah aneka penyakit dan zat pengawet makanan alami. Itulah kenapa masakan rendang mampu tahan lama, tidak cepat tengik sampai berhari-hari.

Rempah-rempah memiliki kemampuan untuk mengawetkan makanan karena mengandung senyawa antioksidan yang akan melindungi makanan terhadap proses ketengikan (proses oksidasi). Selain itu, di dalam rempah-rempah terkandung senyawa antimikroba yang dapat melindungi makanan dari pertumbuhan dan perkembangan mikroba perusak makanan maupun penyebab penyakit. Semua jenis rempah-rempah ada di bumbu dapur yang sering kita jumpai.

Bawang merah, bawang putih, wijen, cengkeh, lada, cabai, jahe, kunyit, lengkuas, pala, jinten merupakan rempah-rempah yang terbukti memiliki komponen-komponen senyawa bioaktif yang bersifat antioksidan. Pada cengkeh, aktifitas antioksidan setara dengan antioksidan sintetis Butylated Hydroxytoluene (BHT) yang sering dipakai di industri-industri pangan.

Bawang putih, cengkeh, asam jawa, jinten, lada, dan berbagai rimpang lainnya seperti jahe, kunyit berkhasiat antiseptik atau pembunuh mikroba yang ampuh. Semua bumbu dapur tersebut dicampur menjadi berbagai bumbu masakan seperti bumbu opor, gulai, rendang, dan rawon. Bumbu dapur tersebut mampu tangkal aneka penyakit yang disebabkan oleh bakteri Eschericia coli, Salmonella typhimurium, dan Vibrio cholera.

Bumbu Instan Siap Pakai

Di zaman yang serba praktis ini, kini di pasaran bisa ditemui beragam jenis bumbu instan siap pakai. Di pasar tradisional, bumbu-bumbu yang dijajakan biasanya berupa aneka rempah dalam keadaan masih segar. Ada yang masih berwujud utuh, ada pula yang sudah dalam bentuk olahan (misalnya saja bawang putih giling, bawang merah giling, kemiri giling, dll).

Bumbu Instan Siap Pakai
Bumbu instan siap pakai
Bila kita ingin memasak rendang, nasi goreng, sambal goreng hati, tapi tak hafal ragam bumbu yang diperlukan, di pasar-pasar swalayan sudah tersedia aneka jenis bumbu siap pakai yang sudah lengkap komposisi rempah-rempahnya. Bumbu olahan ini dikemas ke dalam botol plastik, sachet, atau plastik kemasan. Pengemasan bumbu-bumbu olahan ini akan membuat bahan-bahan rempah di dalamnya bisa awet berhari-hari, bahkan berbulan-bulan.

Di pasar swalayan, selain tersedia bumbu-bumbu dalam keadaan segar, juga tersedia bumbu siap pakai dalam bentuk tepung (untuk menggoreng ayam atau pisang), atau berbentuk bubuk kering (bubuk kunyit, bubuk pala). Ada pula bumbu yang sudah matang dalam bentuk adonan pasta yang biasanya dikemas menggunakan aluminium foil atau dimasukkan ke dalam botol gelas. Misalnya saja, bumbu gulai, bumbu rendang, bumbu nasi goreng, bumbu soto, dll.

Keuntungan memakai bumbu instan, antara lain; praktis dipakai karena bisa langsung digunakan dan tak membutuhkan waktu maupun proses yang lama untuk membuat masakan. Meskipun demikian, masih banyak yang berpendapat bahwa memakai bahan-bahan bumbu segar yang diolah sendiri lebih memiliki aroma dan cita rasa yang lebih enak dibandingkan dengan bumbu olahan. Dalam hal soal harga jelas lebih menghemat bumbu-bumbu segar.

Walaupun begitu, bumbu instan siap pakai tetap layak disediakan di rumah Anda. Karena ia memiliki kepraktisan tinggi. Terutama untuk kaum wanita karir yang tak memiliki banyak waktu untuk meracik-racik aneka jenis bumbu dan harus membelinya di pasar tradisional atau swalayan. Wanita karir juga biasanya tak hafal dengan jenis-jenis rempah yang dibutuhkan untuk membuat bumbu jenis masakan tertentu. Bumbu siap pakai mempermudah keperluan memasak Anda.

Baca juga

Bahan-bahan Bumbu Masakan Nusantara

Masakan nusantara memiliki banyak ragam jenis dan cita rasa. Semua masakan Indonesia memakai rempah-rempah dengan komposisi yang berbeda-beda dan takaran yang berbeda-beda pula untuk setiap jenis masakan. Bahkan, ada jenis masakan yang sama, tapi berasal dari daerah yang berbeda, ternyata bahan-bahan bumbu berbeda sehingga berbeda pula cita rasanya. Keanekaragaman jenis masakan Indonesia ini yang menjadikan negeri kita terkenal dengan sebutan 1001 jenis makanan.
Bahan-bahan Bumbu Masakan Nusantara
Rempah-rempah dalam bentuk serbuk

Rempah-rempah yang biasa dipakai dalam aneka masakan nusantara sangat beragam. Ada yang berasal dari rimpang (bagian akar) seperti kunyit, jahe, lengkuas. Ada juga dari batang tanaman seperti serai. Kayu manis yang berasal dari kulit pohon, bahan bumbu dari dedaunan seperti daun jeruk purut, daun kunyit, daun salam. Ada juga bumbu yang berasal dari bunga seperti cengkeh, bahan berasal dari buah seperti asam jawa, asam kandis. Biji tanaman tak luput juga sebagai bahan bumbu seperti biji pala, lada, dan ketumbar. Bahan-bahan bumbu lainnya masih banyak lagi.

Jenis bumbu wajib ada
Dari sekian banyak bahan-bahan bumbu masakan nusantara tersebut, bawang merah dan bawang putih menjadi jenis rempah utama dalam setiap masakan Indonesia. Hampir setiap masakan Indonesia tak pernah ketinggalan menggunakan rempah kedua jenis ini. Bawang merah dan bawang putih memang mampu mengeluarkan aroma yang pasti menggugah selera  setiap jenis masakan.

Bukan cuma bawang merah dan bawang putih, rempah-rempah lain juga mampu memberi aroma yang khas dan memberi cita rasa yang lezat dan sedap. Aroma harum dan tajam dari aneka jenis rempah ini biasanya akan muncul bila dipanaskan. Oleh karena itu, tak perlu heran kalau pada umumnya bahan-bahan bumbu masakan nusantara ditumis atau disangrai terlebih dahulu sebelum dicampurkan dengan bahan-bahan lainnya.

Bumbu olahan
Aneka jenis rempah-rempah tersebut bisa diolah dalam keadaan segar maupun dikeringkan. Rempah-rempah yang sudah berubah wujud dari aslinya biasanya lebih mudah mengalami kerusakan. Contohnya, rimpang kunyit yang digiling menjadi bentuk bubuk atau serbuk. Bumbu olahan seperti ini mudah rusak karena sistem perlindungan alami rempah-rempah tersebut sudah mengalami kerusakan yang diakibatkan selama pemrosesan seperti penggilingan, pemotongan, pengeringan dll.

Bahan-bahan bumbu masakan Indonesia yang sudah dalam bentuk olahan kering bisa mengalami kerusakan dengan ditandai adanya ketengikan. Terjadinya ketengikan ini karena adanya reaksi oksidasi lemak pada bumbu olahan kering tersebut. Bisa dilihat dari penampilannya yang ditumbuhi miselium kapang yang berupa benang-benang halus atau adanya pertumbuhan spora yang berwarna putih, hitam, abu-abu, atau hijau.

Bahan-bahan bumbu masakan nusantara yang siap pakai (instan) dalam bentuk pasta, kerusakannya bisa ditandai dengan adanya aroma tengik atau aroma khas yang menyimpang dari keadaan normal, tampak pula busa atau muncul gas dan lendir. Semua reaksi kimiawi ini terjadi karena adanya pertumbuhan bakteri yang menyebabkan kerusakan bumbu-bumbu masakan.

Baca juga

Mari Mencermati Label Kemasan Produk Makanan

Ketika kita berbelanja, apa yang membuat jadi pertimbangan bagi kita untuk membeli suatu produk? Hampir semua orang menjawab serempak "harga barang tersebut". Harga menjadi pertimbangan utama bagi kebanyakan konsumen. Pertimbangan berikutnya yaitu memperhatikan penampilan produk seperti keindahan label, kemasan, merek populer, ada tidaknya atribut tertentu (halal atau kandungan zat-zat tertentu).
Mari Mencermati Label Kemasan Produk Makanan
Sebelum dibeli, cermati label produk-produk makanan ini

Tak banyak yang memperhatikan label pada suatu produk. Yang sering diperhatikan oleh konsumen Indonesia biasanya pencantuman label 'halal'. Selebihnya, kurang diperhatikan. Sebagian orang ada yang berkesempatan membaca label, tapi kurang dicermati. Nah, mulai sekarang, mari kita sedikit meluangkan waktu memeriksa labe dari suatu produk sebelum memutuskan dibeli.

Apa itu label?
Label adalah tulisan, tag, gambar, atau deskripsi lain yang tertulis, dihias, atau dicantumkan dengan cara apapun pada kemasan suatu produk. Pelabelan ditujukan sebagai sarana komunikasi antara produsen kepada konsumen tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh konsumennya terhadap produk-produk yang dipasarkan.

Konsumen akan memperoleh informasi tentang isi suatu produk tanpa harus membuka kemasannya. Konsumen dapat mengetahui apa saja yang terkandung di dalam produk makanan tersebut, termasuk hal-hal yang tak terlihat oleh mata atau tak diketahui secara fisik. Dengan keberadaan label ini, konsumen bisa melihat mutu dan keamanan suatu produk.

Label bagi produsen merupakan sebagai sarana berpromosi untuk menarik konsumen. Bagi konsumen, label produk-produk makanan membantu mereka untuk menilai suatu mutu produk tersebut. Tak hanya melihat label halal saja, tapi juga mencakup keamanan produk tersebut. Misalnya, batas kadaluwarsa produk-produk makanan tersebut. Nah, mulai sekarang, tak perlu apriori dengan kemasan suatu produk tertentu. Sebagai konsumen cerdas, mulailah cermati dan perhatikan label yang menyelimuti produk-produk yang akan Anda beli.
(+)