Jika ada masa sekolah - dari SD hingga universitas - yang paling saya benci dan berusaha dihilangkan dari memory otak maka itu adalah masa saat SMP di Ngawi. Walau masa sekolah kala SD di Paron juga tidak tergolong indah, tapi banyak momen menyenangkan saat bermain bersama teman-teman di pedesaan, di sawah, dan saya punya banyak sohib yang mengasyikkan. Selain itu, sekolah di desa kecil tidaklah terlalu banyak tuntutan, ruang lingkupnya sempit dan tidak membuat deg-degan selayaknya jenjang berikutnya. Ketika masuk ke salah satu SMP di kota kabupaten Ngawi, saya dibuat meriang dengan banyaknya anak yang bersekolah. Kelas satu saja terdiri dari 10 kelas, dimana masing-masing kelas paling tidak berisi sekitar 45 murid. Bayangkan betapa melongonya saya melihat beragam-macam siswa-siswi mulai dari yang cantik, ganteng, sophisticated, kaya, rapi jali, kelimis, hingga amburadul dan acak adul seperti saya. Beberapa murid begitu cantik dan ganteng, atau begitu pintar hingga semua nilai di NEM-nya mendekati sepuluh, membuat saya minder sendiri. Swear, saya seakan diceburkan dari lingkungan nyaman nan sederhana, ke dunia lain yang seakan saya tak akan pernah bisa menyesuaikan diri. Jika ingatan akan masa tiga tahun bersekolah pada jenjang ini bisa dihapus, maka akan saya delete selamanya dari kepala yang setengah penuh ini. Tobat!
Tampilkan postingan dengan label Ikan Air Laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikan Air Laut. Tampilkan semua postingan
Resep Sate Lilit Ikan
Resep Asam Padeh Ikan dengan Daun Ruku-Ruku
Dari sekian banyak tanaman yang suka saya tumbuhkan di halaman maka jenis rempah aromatik menduduki peringkat pertama, alias kudu wajib ada. Alasannya, daun rempah aromatik atau herbs umumnya tidak diperlukan dalam jumlah banyak di dalam masakan, jadi membelinya dalam partai besar, cenderung mubazir. Alasan lainnya, beberapa jenis daun rempah tidak umum ditemukan di pasaran, misal ruku-ruku untuk masakan asam padeh ikan ini, jadi menanamnya sendiri adalah cara mudah agar daun tersedia ketika diperlukan. Selain itu, mengkoleksi daun rempah menurut saya mengasyikkan, aromanya bermacam-macam dan menjadi tantangan sendiri saat menceburkannya ke dalam masakan.
Ada banyak tanaman rempah yang saya tanam dalam pot di kebun secuplik di pekarangan rumah, umumnya yang sering digunakan di dalam aneka masakan mulai dari daun bawang, seledri, kemangi, kunyit, thai basil, italian basil, hingga daun rempah yang belum pernah saya gunakan di dalam masakan tapi mati-matian saya tanam, misal rice paddy herbs atau ngo om (Limnophila aromatica). Saya suka menonton vlog gardening dan cooking dari Thailand, Vietnam dan Kamboja, mereka sering memasukkan aneka rempah daun aromatik di dalam hidangan terutama sup.
![]() |
| Daun Ruku-Ruku |
Klik untuk baca selanjutnya...
Resep Empanada Tuna
![]() |
Hari ini saya masuk ke kantor. Sejak PSBB diperketat kembali saya hanya bekerja di kantor sekali dalam seminggu, sisanya bekerja dari rumah. Tapi mulai minggu ini PSBB kembali diperlonggar alias PSBB transisi, konon katanya kasus Covid di DKI mengalami penurunan. Jika biasanya restoran hanya diperbolehkan take away dan pembeli tidak diperkenankan makan di tempat maka pada saat PSBB transisi diperbolehkan hanya jumlah pengunjungnya dibatasi. Covid ini memang membuat serba susah, disatu sisi kita diminta untuk stay di rumah, seminimal mungkin meluangkan waktu di luar, tapi disisi lain imbasnya adalah pada perekonomian yang semakin berat berputar.
Minggu lalu salah satu rekan kantor membagikan sebuah foto yang menunjukkan pramusaji salah satu resto terkenal menjajakan makanan yang sudah dibungkus disebuah jembatan. Betapa terharu saya melihat si Mbak yang mengenakan seragam restoran, dalam kondisi berpanas-panasan duduk di tepian jembatan penyeberangan, disebelahnya tampak sebuah keranjang berisikan bungkusan makanan dengan merk satu resto yang cukup terkenal. Bayangkan, jembatan penyeberangan yang biasanya diisi oleh penjual emperan kini karena minimnya pembeli yang datang ke mal membuat resto-resto terkenal menyasar pembeli dengan cara seperti ini. Bisnis makanan yang membuka restoran tampaknya yang paling terpukul dengan kondisi PSBB ini.
Klik untuk baca selanjutnya...
Label:
Ikan Air Laut,
Kentang,
Kue dan Cookies,
Pie dan Tarts,
Sayuran,
wortel
Resep Siomay Keriting
Lebaran tahun ini berlalu begitu saja, tidak meninggalkan kesan. Bahkan aura Lebaran tak saya rasakan selayaknya tahun lalu. Seakan anti klimaks, karena tahun lalu saya dan keluarga menghabiskan waktu berkumpul di Ancol selama 3 hari. Tahun ini kakak saya dan keluarganya tetap di Batam, hanya kami yang berada di sekitar Jakarta yang datang ke rumah Wiwin, adik saya, di daerah Mampang. Saya bahkan tidak memasak makanan apapun sama sekali. Awalnya saya berniat untuk memasak rendang, tapi di last minute saya batalkan karena adik saya berkata stok rendang sejak bulan puasa masih banyak di freezer. Akhirnya saya datang hanya membawa diri dan baju ganti. Untungnya, asisten rumah tangga Wiwin, Mbak Yati, tahun ini tidak mudik ke Cirebon, jadi Lebaran dua hari kemarin kami kenyang dengan masakan beliau. Kami menyebutnya, Yati's Kitchen. Sebagaimana tahun lalu, adik saya menyediakan soto daging, rendang, sambal goreng hati, opor ayam kampung, ketupat dan sayur godog. Plus aneka gorengan seperti bakwan, tempe mendoan dan tahu isi yang menjadi andalan Mbak Yati. Masakan Mbak Yati cocok dengan selera kami semua, dan aneka gorengannya mantap. Selama dua hari perut saya seakan meledak kekenyangan.
Mumpung masih suasana Lebaran, saya ucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1441 H. Minal aidin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin ya.
Langganan:
Postingan (Atom)
(+)










